Senin, 21 September 2009

Don't Worry Be Happy

Manusia diciptakan berpasangan, benarkah demikian?. Menurut buku panduan hidup yang aku percaya selama ini, Tuhan pertama kali menciptakan satu manusia yang elok parasnya dan segambar dengan Ia. Karena keluh kesah sang manusia yang merasa kesepian melihat mahluk lain di sekitarnya hidup berpasangan, akhirnya Tuhan yang memiliki kasih dan pengertian besar mengambil salah satu dari tulang rusuk sang manusia dan menjadikannya manusia lain dengan paras yang berbeda. Sang manusia pertama berbahagia karena ia merasa tidak harus kesepian lagi. Itulah sepenggal kisah romantis terciptanya manusia yang disebut sebagai laki-laki dan perempuan. Jika menilik kembali cerita ini, menggugah hati kita betapa sempurnanya Allah menciptakan mahluknya. Ia sungguh mengasihi kita, sampai pada kebutuhan hati kita yang kesepianpun Ia mau untuk memenuhinya. Terima kasih Tuhan untuk cinta dan perhatiannya. Kemudian saya kembali berfikir, banyak hal yang ingin saya tanyakan pada Tuhan jika Tuhan ada di sini saat ini. Diantaranya kenapa ada manusia yang seumur hidupnya tidak memiliki pasangan?, Kenapa ada manusia yang beberapa kali menikah kemudian bercerai? sedangkan seyogyanya pernikahan merupakan hal sakral yang hanya sekali dalam seumur hidup manusia (Tuhan hanya mengaambil satu tulang rusuk dan bukan beberapa). Namun untuk pertanyaan kedua, akan saya bahas kemudian dengan pengertian, pemahaman, pemikiran saya sendiri di uraian berikutnya.
Menjawab pertanyaan pertama, di benak saya muncul jawaban bahwa pasangan hidup manusia itu telah terlebih dahulu pergi (meninggal dunia, karena dosa penghianatan kepercayaan Allah yang dilakukan kedua manusia pertama maka setelah itu manusia mengalami apa yang disebut sebagai hidup dan mati) sebelum garis hidup mempertemukan mereka. Saya mempercayai Allah merupakan perencana terbaik yang pernah ada. Ia membuat garisan hidup jutaan manusia di bumi ini tanpa cela. Jika meruntut pertanyaan dan jawaban saya, kemudian muncul kembali pertanyaan, kenapa Allah membuat garis hidup dimana salah seorang manusia di bumi tidak menemukan pasangannya?. Saya kembali menjawab dengan pikiran dan hati saya, bahwa Allah merencanakan sesuatu hal yang baik. Baik bagi orang lain dan bagi manusia itu sendiri.

Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, dan laki-laki diciptakan untuk melindungi dan mencintai perempuan. Jika kebanyakan orang kuatir dengan pasangan hidupnya ketika ia sudah merasa beranjak dewasa, menurut saya hal itu tidak terlalu beralasan. Allah telah mengatur satu orang pemilik untuk satu buah tulang rusuk. Tidak akan menjadi dua. Ketika dua orang bertemu, sang pemilik dan tulang rusuk yang ia cari, maka saat itulah keduanya akan bersatu menjadi satu tubuh yang utuh. Pemilik yang menemukan tulang rusuk sejatinya akan mempertahankan keutuhan satu tubuh mereka sampai dengan akhir langkah kehidupan.Tidak perlu untuk bersusah hati dengan usia dan kemunculan pasangan yang tak kunjung datang. Tuhan sudah mengatur semuanya dengan baik. Ia tahu kapan saat terindah pertemuan itu terjadi. Seperti sepenggal lyrik lagu Opie Anderesta "Aku baik saja...melewati hidup yang aku punya...hidupku sangat sempurna...I'm single and very happy". Jadi, sementara pasanganmu datang tetaplah berbahagia.


(Untuk orang-orang yang merasa kesepian karena belum menemukan pasangan hidupnya)

--Rephy Nahan--

Selasa, 29 April 2008

Manusia hidup untuk usaha mengapai kesempurnaan


Saat kita beranjak dewasa, saat kita merenung dan merasakan kejenuhan dalam melakukan aktivitas yang itu-itu saja, saat kita berputus asa dan mulai mempertanyakan segala hal yang terjadi di dalam hidup kita, pertanyaan kenapa saya hidup dan untuk apa saya hidup menjadi sangat mungkin terbesit di dalam benak kita.
Banyak hal yang kita lakukan untuk memaknai kehidupan singkat yang diberikan oleh Sang Pencipta bagi kita. Petanyaannya, apakah yang kita lakukan itu bisa menjawab pertanyaan tadi???. Pertanyaan berbuntut pertanyaan, tanpa jawaban. Membuat semakin rumit untuk mendekati tujuan bagaimana memaknai kehidupan sesungguhnya. (Sesungguhnya, menurut Dunia Pikir Seorang Rephy.) Walaupun kebahagiaan dan cara memaknai kehidupan itu berbeda seorang dengan yang lain, begitupun juga pemikiran yang juga tidak pernah bisa untuk diatur satu dengan lainnya. Setidaknya, salah satu buah pemikiran mencoba untuk berenang muncul ke atas permukaan.
Sejak manusia dilahirkan, ia telanjang tidak berdaya juga buta. Sang Pencipta yang Bijaksana, memberikan kesempatan bagi manusia untuk menyempurnakan dirinya agar ia dapat menjadi seseorang yang berbeda saat mereka kembali bertemu pada akhir perjalanan hidup sang manusia. Dalam fase yang diberikan, manusia diharapkan bijaksana untuk mencapai perubahan demi perubahan yang ia alami, didalam alur yang telah diatur Sang Pencipta. Kesempurnaan dalam kehidupan manusia sejak awalnya memang tidak penah diperoleh 100%. Manusia tahu itu. Akan tetapi sejak awalnya juga manusia telah digariskan untuk menggapai kesempurnaan itu, yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhir perjalanan.