Selasa, 29 April 2008

Manusia hidup untuk usaha mengapai kesempurnaan


Saat kita beranjak dewasa, saat kita merenung dan merasakan kejenuhan dalam melakukan aktivitas yang itu-itu saja, saat kita berputus asa dan mulai mempertanyakan segala hal yang terjadi di dalam hidup kita, pertanyaan kenapa saya hidup dan untuk apa saya hidup menjadi sangat mungkin terbesit di dalam benak kita.
Banyak hal yang kita lakukan untuk memaknai kehidupan singkat yang diberikan oleh Sang Pencipta bagi kita. Petanyaannya, apakah yang kita lakukan itu bisa menjawab pertanyaan tadi???. Pertanyaan berbuntut pertanyaan, tanpa jawaban. Membuat semakin rumit untuk mendekati tujuan bagaimana memaknai kehidupan sesungguhnya. (Sesungguhnya, menurut Dunia Pikir Seorang Rephy.) Walaupun kebahagiaan dan cara memaknai kehidupan itu berbeda seorang dengan yang lain, begitupun juga pemikiran yang juga tidak pernah bisa untuk diatur satu dengan lainnya. Setidaknya, salah satu buah pemikiran mencoba untuk berenang muncul ke atas permukaan.
Sejak manusia dilahirkan, ia telanjang tidak berdaya juga buta. Sang Pencipta yang Bijaksana, memberikan kesempatan bagi manusia untuk menyempurnakan dirinya agar ia dapat menjadi seseorang yang berbeda saat mereka kembali bertemu pada akhir perjalanan hidup sang manusia. Dalam fase yang diberikan, manusia diharapkan bijaksana untuk mencapai perubahan demi perubahan yang ia alami, didalam alur yang telah diatur Sang Pencipta. Kesempurnaan dalam kehidupan manusia sejak awalnya memang tidak penah diperoleh 100%. Manusia tahu itu. Akan tetapi sejak awalnya juga manusia telah digariskan untuk menggapai kesempurnaan itu, yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhir perjalanan.




Tidak ada komentar: